September 30th, 2011

Agar anak-anak mencintai lingkungan, mungkin ada gunanya mereka kita bawa ke ruang terbuka hijau supaya mereka dapat belajar dan memahami tentang alam. Di wilayah Bandung terdapat tempat yang aman dan nyaman untuk mempelajari alam yaitu kawasan Bumi Perkemahan Cikole (Cikole Endah). Tempat ini dikelola oleh Perum Perhutani, yang berlokasi sekitar 30 km dari Kota Bandung, tepatnya di Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Dahulu kawasan ini merupakan hutan produksi pinus, dan kini dikembangkan sebagai tempat bumi perkemahan. Terdapat banyak pohon yang tumbuh di kawasan ini, seperti pohon pinus, agathis dan kaliandra. Di kawasan hutan dengan luas lahan 10 hektare ini terdapat area perkemahan yang dapat menampung 50 unit kemah. Cikole Endah tidak hanya berfungsi sebagai tujuan wisata alam dan tempat bumi perkemahan, tetapi juga menyediakan arena untuk outbound, jungle kids, jogging track dan beberapa sarana hiburan lain. Di sini juga terdapat sumber mata air yang digunakan untuk keperluan pengunjung.
Untuk mencapai kawasan Cikole, tidak sulit, karena kawasan ini berada di pinggir jalan, di seberang gerbang masuk Gunung Tangkuban Parahu dan dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum. Cikole memiliki sarana dan fasilitas yang lengkap seperti shelter, jalan setapak, jembatan, tempat parkir, gardu jaga, gerbang/loket karcis, rumah petugas, musala, MCK, instalasi air dan instalasi listrik serta mesin diesel. Berkunjung ke kawasan Cikole ini dapat menambah ilmu karena kita dapat belajar tentang alam, gunung api, hutan tropis, vulkanologi dan lingkungan.
Sebagai pelengkap permainan, tersedia pula berbagai aktivitas outbound dengan pilihan lokasi sesuai dengan kebutuhan seperti flying fox, paintball, rafting, landrover, team building program, outbound training, city treasure hunt, jungle treasure hunt, amazing race sampai wisata edukasi. Program wana wisata ini selain dalam jangka harian, juga dalam jangka lama dengan berkemah. Kegiatan wisata yang dapat dilakukan adalah piknik, lintas alam dan hiking. Adapun untuk kegiatan berkemah disediakan pula beberapa kompleks perkemahan yang dapat digunakan. Kawasan Cikole sangat ideal bagi anak-anak yang ingin menambah wawasan tentang alam. Rasa cinta alam dapat ditanamkan di sini, sambil berekreasi bersama keluarga.
Read the rest of this entry »
Posted in Lingkungan | No Comments »
September 30th, 2011
Penulis : Imelda Anwar Fotografer : M. Ifran Nurdin
Javaplant yang berlokasi di kawasan perbukitan di Tawangmangu, Jawa Tengah ini merupakan perusahaan yang khusus memproduksi ekstrak hasil alam (botanical extraction) di Indonesia seperti daun teh, biji kopi, bumbu dan aneka herbal. Rancangan kantor dan laboratorium yang dibangun empat tahun lalu ini, dipercayakan kepada arsitek Andra Matin, sedangkan desain interior dan rancangan pabriknya dipercayakan kepada tim intern Javaplant.
Mengacu pada konsep modern tropis, rancangan bangunan di kompleks Javaplant memadukan bahan alami dengan material mutakhir di samping memanfaatkan potensi lingkungan sekitarnya. Pada tahap awal, arsitek menata posisi bangunan dan jalur sirkulasi baik sirkulasi untuk orang maupun untuk barang yang efisien. Dua bangunan yaitu kantor dan laboratorium, ditata dalam formasi saling tegak lurus menyerupai huruf L. Bangunan kantor yang hanya satu lantai ditandai oleh atap model pelana sedangkan bangunan pabrik yang terdiri dari dua lantai, ditutup oleh sebidang atap miring.
Dalam pengolahan lahan dan bangunan, arsitek memasukkan unsur air yang berefek menenangkan dengan cara membuat kolam ikan koi di bagian belakang bangunan kantor utama dan di bagian muka kantor pemasaran. Kolam ini dibuat mengelilingi kantor bahkan bangunannya, seolah-olah menjorok di atas permukaan kolam sehingga menarik perhatian (eye catcher) orang yang datang.
Pada tahap selanjutnya, arsitek menerapkan susunan ruang linier pada bangunan kantor dengan jalur sirkulasi di tengah dan diapit oleh deretan ruang kerja staf. Bagian muka kantor ditata untuk area penerima tamu dan bagian belakang untuk ruang rapat serta ruang pimpinan. Untuk layout laboratorium, susunan ruangnya dirancang linier tetapi jalur sirkulasi berada di sisi bangunan yang bersebelahan dengan jalan agar kegiatan dalam laboratorium tidak terganggu.
Sesuai dengan prinsip arsitektur tropis, sebagian dinding luar bangunan kantor ataupun laboratorium dirancang secara transparan berupa jendela kaca lebar, skylight di atap dan deretan lubang udara di bawah atap. Konsep berbasis indoor-outdoor ini juga memaksimalkan masuknya cahaya alami dan memaksimalkan sirkulasi udara serta terdapat kontinuitas visual antarruang dengan orientasi ke arah luar sehingga memberikan kesan “merangkul” alam ke dalam bangunan. Kesan modern ditonjolkan melalui tiang balok strukural dari baja beton dan rangka kayu atap yang diekspos. Bagian tengah/nok atap kantor sengaja ditutup oleh bahan transparan agar ruang dalam senantiasa terang secara alami.
Selain itu sebuah detail pada fasad bangunan dan tampak belakang laboratorium didesain menyerupai “anjungan” dengan posisi menjorok ke luar dari dinding. “Anjungan” ini hanya disekat oleh dinding kaca mulai dari lantai sampai plafon agar memberikan pemandangan lepas ke arah sekitarnya. Yang menjadi ciri khas dari kompleks Javaplant ini adalah dinding pengisi bangunan yang terdiri dari dua macam material yaitu susunan batu bata dengan acian halus dan beton. Dinding batu bata ini diolah secara kreatif, misalnya diantara susunan bata sengaja dibuat lubang-lubang untuk mengalirkan udara sejuk ke dalam ruang. Pada siang hari, cahaya yang masuk melalui lubang diantara batu bata tersebut menghasilkan bayang-bayang berbentuk garis ataupun titik-titik sehingga tercipta “permainan” bayangan yang dinamis.
Lokasi : Kantor dan Laboratorium Javaplant di Tawangmangu, Surakarta, Jawa Tengah
Pemilik : PT Tri Rahardja dari Deltomed Grup
Arsitektur : Andra Matin
Read the rest of this entry »
Posted in Liputan Utama | No Comments »
September 30th, 2011
Penulis : Viva Rahwidhiyasa
Fotografer : Ahkamul Hakim

Bangunan dua lantai berarsitektur modern dengan sentuhan tropis milik keluarga Debby Febriani Siregar ini terlihat anggun di sebuah kaveling dengan luas 650 m² yang berada di sudut jalan. Ruang terbuka yang dimanfaatkan untuk taman berada di sekeliling muka rumah yang memanjang mengikuti lekukan bangunan berbentuk huruf L. Selain itu, area bahu jalan diantara jalan dan pagar turut dikreasikan menjadi sebuah taman.
Pagar rendah yang mengelilingi bangunan berbentuk huruf L, disamarkan oleh tanaman pada kedua sisinya. Bagian tepian atasnya dibentuk menjadi bak tanaman yang diisi dengan tanaman samba dara yang memiliki karakter daun menjuntai. Beberapa pohon tinggi seperti mahoni, angsana, palem sadeng dan tabebuya ditanam di luar pagar untuk meneduhi sebagian area pada taman depan. Bahu jalan selebar dua meter juga dimanfaatkan sebagai taman yang menyatu dengan taman di bagian dalam. Untuk memberikan efek dinamis, permukaan tanahnya dirancang berkontur dan meninggi ke arah pagar. Cara ini juga lebih efektif menyamarkan fisik pagar dengan maksimal. Tanaman ditata dalam komposisi semiformal, berlekuk dan bergelombang agar terlihat lebih “luwes” dan alami. Tanaman yang berkarakter halus dengan daun yang bertekstur lembut dan berukuran kecil, dikombinasikan dengan tanaman yang memiliki daun besar berbentuk pedang dan berkesan tegas.
Kaveling yang berada di halaman belakang merupakan area pengembangan yang dibeli kemudian dari penduduk sekitar. Namun, permukaan kaveling tersebut berada satu meter lebih tinggi dari permukaan rumah dan memiliki bentuk bukan persegi yaitu bentuk trapesium. Area ini dikembangkan menjadi taman belakang dan kolam renang untuk melengkapi fasilitas keluarga ketika beraktivitas di ruang luar. Keberadaan ruang terbuka ini juga menjadi “kantung” yang mengalirkan udara ke dalam ruang dan memaksimalkan pencahayaan alami pada siang hari, sehingga ruang-ruang dalam terasa lebih sehat dan nyaman.
Perbedaan tinggi permukaan tanah yang mencolok disiasati dengan membuat kolam renang bersistem overflow dengan tepian kolam yang dapat mengalirkan “tumpahan” air sampai jatuh ke dalam kolam ikan yang berada di level lebih rendah sejajar dengan teras rumah. Kolam renang berbentuk menyerupai bentuk kacang (bean shape) yang mendominasi hampir seluruh area datar pada taman belakang. Keteduhan kanopi pohon kelapa dan payung yang ditempatkan menggantung menjadi pelengkap dari area beristirahat ini.
Desainer dengan jeli mengolah dinding pembatas kaveling ke arah taman belakang dengan elemen dekoratif dan taman. Contohnya pada dinding yang berseberangan dengan living room, ditutup dengan gebyok berukir lengkap dengan kanopi beratap genteng yang menutupinya. Visualisasi ini memberikan kesan bahwa terdapat ruang di balik pintu seolah-olah dinding tersebut bukan sebagai batas akhir dari halaman belakang. Adapun dinding yang bersikuan dengan gebyok tersebut ditutup dengan tanaman merambat Ficus yang merupakan latar belakang hijau dari semak di sisi muka.
Lokasi :
Kediaman Keluarga Debby Febriani Siregar
Taman Puri Bintaro – Tangerang
Lanskap :
Nurdin dari GonKu Nursery
Read the rest of this entry »
Posted in Taman | No Comments »
August 31st, 2011
Penulis : Imelda Anwar Fotografer : M. Ifran Nurdin
Keunikan hunian berikut ini terletak pada komposisi bentuk kotak-kotak geometris yang simpel, susunan ruang yang transparan dan pencahayaan alami yang melimpah. Konsep desain hunian ini bermula dari keinginan pemilik untuk memiliki hunian modern dengan suasana yang terbuka dan “ringan”.
Sebagai arsitek muda, Catur banyak mengacu pada prinsip desain bergaya minimalis dengan menonjolkan bentuk yang “jujur” dan pengolahan alur ruang (sequence) yang “mengalir”. Pada tahap awal, arsitek membongkar rumah lama di lahan seluas 300 m2 tersebut, kemudian menggunakan sebagian lahan di bagian tengah untuk massa bangunan baru sehingga menyisakan ruang terbuka hijau yang luas terutama di halaman belakang.
Wujud bangunannya menampilkan boks-boks geometris yang posisinya diatur saling maju-mundur secara dinamis. Setiap boks diolah dengan susunan dinding masif, jendela kaca lebar, teriti dan pagar balkon dari kaca sehingga menegaskan kesan modern yang. Selain diberi finishing cat warna abu-abu, dinding tertentu seperti pagar luar dilapisi oleh batu alam agar memunculkan kesan “hangat”. Empat buah pilar pada fasad juga memberikan kesan kokoh dan diimbangi dengan jendela kaca lebar dan sorot cahaya lampu. Bukaan seperti ini diterapkan di setiap ruang untuk mengoptimalkan masuknya cahaya alami dan mengoptimalkan sirkulasi udara segar ke dalam hunian dan pandangan bebas ke arah luar.
Komposisi boks pada fasad juga mencerminkan susunan ruang dalam hunian, misalnya sebuah boks transparan berbentuk vertikal yang menunjukkan area tangga. Aksentuasinya hadir berupa pagar dari aluminium ber-finishing warna hitam yang serasi dengan keramik penutup lantai teras depan. Masuk ke dalam hunian, arsitek menyusun ruang-ruang tanpa dinding penyekat dan void di tengah hunian. Ruang-ruang yang bersifat semipublik seperti foyer, ruang tamu dan ruang keluarga ditata menyatu di lantai dasar serta bersisian dengan area tangga di pojok hunian.
Seluruh dinding ruang makan yang menghadap ke halaman belakang dibuat berupa pintu kaca geser tanpa kusen sehingga terasa suasana indoor-outdoor yang kuat pada hunian. Aplikasi kaca yang cukup banyak seperti pada pintu kamar mandi, pagar tangga dan teritis menegaskan citra modern pada hunian ini.
Dalam menata interior, arsitek bersama dengan pemilik rumah memilih furnitur dan aksesori yang simpel dan memadukan warna serta tekstur yang atraktif agar suasana hunian menjadi nyaman. Contohnya, sofa di ruang keluarga yang berlapis kain lembut warna abu-abu dipadu dengan coffee table yang ber-finishing veneer serat kayu yang “hangat”. Kursi dan meja makan yang terbuat dari bahan metal ber-finishing mengilat (glossy) menjadi pusat perhatian (eye catcher). Tata cahaya (lighting) dari lampu jenis downlight dan spotlight juga berperan memberikan kesan “hidup” pada hunian urban ini.
Lokasi : Kediaman di Jalan Kenanga, Semarang, Jawa Tengah
Read the rest of this entry »
Posted in Arsitektur | No Comments »
August 31st, 2011
Penulis : Denyza Sukma Fotografer : Ahkamul Hakim

Arsitektur tradisional di Indonesia sangat beragam, namun khusus di Pulau Jawa keberadaan rumah tradisional sangat memprihatinkan. Hal ini terbukti dari banyaknya rumah-rumah tradisional diperjualbelikan kepada pihak luar, sehingga jumlah rumah tradisional seperti rumah joglo, rumah Kudus dan rumah tradisional yang lainnya semakin berkurang.
Hal inilah yang menjadi pemikiran bagi wanita yang sejak kecil sangat mencintai benda seni, Otty Hariprihatini. Kecintaan Otty ini sudah dimulai sejak duduk di bangku kuliah. Semua barang yang “diburunya” dari beberapa daerah di pulau jawa itu dikumpulkannya dan menjadi benda koleksinya sampai sekarang.
“ Keinginan saya dan suami yang juga sama-sama mencintai benda seni, ingin menjadikan rumah joglo yang kami miliki dibangun untuk ditempati sebagai rumah tinggal” ujar Otty tentang koleksi rumah joglonya. Maka di atas lahan seluas empat hektare inilah semua koleksi rumah tradisionalnya dibangun, diantaranya rumah joglo (Solo) dan rumah Kudus.
Rumah joglo yang didapat dari Purwodadi sekitar 20 tahun yang lalu ini, yang berfungsi sebagai joglo utama yaitu untuk tempat pertemuan keluarga besar. Semua perlengkapan dan dekorasi interior pun disesuaikan dengan bentuk rumahnya, bernuansa tradisional Jawa. Hampir semua material di sini berbahan dasar kayu.
Fungsi hiasan pada suatu bangunan adalah untuk memberi keindahan. Pada orang Jawa, hiasan rumah banyak diilhami oleh flora, fauna dan alam. Ragam hias yang ada baik di rumah joglo maupun yang terdapat di benda lainnya mempunyai makna tersendiri sehingga tidak sembarangan orang dapat mengaplikasikannya pada ruangan. Namun, di rumah ini kita bagaikan diingatkan kembali pada masa-masa lalu yang indah dan damai bagaikan kita berada di desa yang damai dan tentram.
Lokasi : Balemong
Jalan Pattimura No. 1B Sisemut – Ungaran 50511
Jawa Tengah
Read the rest of this entry »
Posted in Arsitektur | No Comments »