March 3rd, 2010
Penulis : Denyza Sukma
Fotografer : M Ifran Nurdin
Seperti kita ketahui koper adalah tas pakaian yang dibawa ketika bepergian. Namun, bagi Hardiman Radjab, seorang seniman benda koper dijadikannya sebagai objek seni. Bagi seniman alumni IKJ ini, sebuah koper mengandung kisah yang erat kaitannya dengan kehidupan dan penghidupan manusia. Ketika membuka koper, banyak hal yang dapat diapresiasi dan menjadi simbol dari perjalanan waktu.. Berbagai ide cerita yang diambil dari peristiwa aktual ini dituangkan oleh Hardiman ke karya-karyanya. Yang menjadi acuan awal dalam mewujudkan idenya adalah latar belakang atau sejarah koper tersebut yang kemudian digabungkan dengan berbagai kejadian menjadi sebuah “narasi”. “Kisah” ini kemudian divisualisasikan ke dalam isi koper tersebut.
“Koper yang saya gunakan ini semuanya adalah koper-koper tua. Saya memang tidak pernah membeli benda tersebut. Semua koper saya peroleh dari keluarga dan dari teman-teman,” ujarnya. Karya seni Hardiman ini merupakan perpaduan antara unsur hobi mengumpulkan barang-barang dan unsur mekanik. Hal ini dapat terlihat pada karya seri Kawin, Long Journey, Made in Indonesia, Sumur Tanpa Dasar, Curtain Call, Poly Game I, dan 6,3 Skala Richter. Baginya, semua karya yang dibuat haruslah komunikatif dengan pengunjung sehingga dari judulnya saja, pengunjung seudah menangkap artinya. Ini terlihat pada pameran karya seni termasuk 18 buah karya Hardiman di Grand Kemang Hotel, Jakarta. Dalam karyanya yang berjudul Made in Indonesia misalnya, ia terispirasi dari bencana lumpur Lapindo, sedangkan karyanya yang berjudul 6,3 Skala Richter terinspirasi dari gempa di Padang. Selain itu berbagai ide banyak diambil dari keadaan dalam kehidupan manusia seperti kritik sosial, dunia politik dan bidang budaya. Meskipun demikian karyanya tetap menarik karena dikemas dengan sudut pandang yang sifatnya menghibur. Dengan mendayagunakan benda-benda tua, seperti koper ini anak kelima dari enam bersaudara ini akan terus memanfaatkan benda-benda tua lainnya untuk dijadikan objek seni, yang nantinya akan dipamerkan pula pada kesempatan berikutnya. Read the rest of this entry »
Posted in Seni | No Comments »
March 3rd, 2010
Penulis : Didan N.Sardjono
Fotografer : Ahkamul Hakim
Orangutan Borneo (Pongo pygmaeus) adalah satwa sejenis kera besar yang termasuk binatang langka yang dilindungi dan tidak boleh diperdagangkan karena terancam punah. Kini, adanya alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri, penebangan liar, pembakaran hutan serta pertambangan merupakan ancaman bagi kehidupan orang utan Habitatnya semakin menyempit dan persediaan makanannya berkurang. Namun, di kawasan Samboja Lestari, terletak di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, satwa langka ini dapat dilihat secara jelas, tidak seperti memantau orangutan di belantara Kalimantan lainnya. Di sini orang utan tidak hanya beradaptasi dengan lingkungannya tetapi juga terbiasa hidup berdampingan dengan manusia. Kelestariannya ini dijaga oleh Yayasan BOS (The Borneo Survival Foundation) dan Program Regional Kalimantan Timur melalui Proyek Reintroduksi Orangutan Wanariset Samboja (PROWS). Read the rest of this entry »
Posted in Lingkungan | No Comments »
March 1st, 2010
Penulis : Didan N. Sardjono | Fotografer : Didan & Dok. Indocement

Setelah sukses pada Indocement
Awards 2008 lalu, di tahun 2010 ini
PT Indocement Tunggal Prakarsa
Tbk. (“Indocement”), produsen
Semen Tiga Roda, mengadakan
Indocement Awards 2010 yang
bertemakan Inspiring Innovation
dengan total hadiah ratusan juta
rupiah beserta piala dan sertifikat.
Read the rest of this entry »
Posted in Liputan Utama | 1 Comment »
February 16th, 2010
Penulis: Yosi Wyoso
Fotografer: Sjahrial Iqbal
Paul Turner adalah seorang desainer sistem pencahayaan yang piawai. Berawal dari kisah cinta terhadap pulau Bali, dia akhirnya menemukan belahan hatinya di Bali. Pasangan ini akhirnya membeli tanah tempat ia hendak membangun tidak jauh dari lokasi rumah yang telah mereka tempati di Sanur. Paul merancang setiap detail rumahnya mulai dari arsitektur sampai interiornya. Kebutuhan anggota keluarganya diakomodasi dengan membuat ruang-ruang yang nyaman untuk mereka. Dengan dibantu oleh teman-temannya dari dunia arsitektur, interior dan lanskap akhirnya tercipta sebuah “surga” bagi dirinya dan keluarganya yang mereka sebut home sweet home.
Rumah Merangkap Kantor
Rumah ini dibangun di lahan seluas 7 are. Paul merancang tidak hanya untuk rumah tinggalnya saja tetapi juga untuk kantor, tempat dia menghasilkan rancangan sistem pencahayaan untuk berbagai proyeknya. Hal ini memudahkan memperlancar pekerjaannya tanpa harus keluar dari rumah. Dia memisahkan kedua massa bangunan sehingga aktivitas tidak tumpang tindih. Kantornya diposisikan sebagai tampak muka dengan detail fasad seperti rumah Bali dengan elemen detail tradisional serta lampu antik yang mengisi sudut-sudut teras di atas. Sekitar 80% tampak depan rumah adalah ruang kantornya, Paul hanya menyisakan sebagian untuk pintu masuk yang menyambung ke rumah tinggal di belakang dan area garasi dan area servis pada lantai dasar.
Read the rest of this entry »
Posted in Liputan Utama | 3 Comments »
February 16th, 2010
Penulis : Imelda Anwar Fotografer : Ahkamul Hakim

Tampilan rumah yang diliput ini memang langsung menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Wujud arsitekturnya berupa komposisi kubus yang dinamis sedangkan interiornya memadukan furnitur yang bernuansa natural.
Hunian yang berlokasi di area Pondok Labu, Jakarta Selatan ini merupakan kediaman keluarga Ossiatzki dengan luas lahan 711 m2. Pemilik yang berprofesi sebagai desainer produk ini merancang sendiri rumah tinggal dan furniturnya dengan melakukan banyak eksperimen dalam mewujudkan idenya. Dengan bekal pendidikan di bidang seni rupa, pemilik rumah memadukan aspek teknologi, aspek material dan aspek estetika sehingga hunian ini berhasil mengekspresikan keunikan desainnya.

Read the rest of this entry »
Posted in Arsitektur | No Comments »