October 31st, 2011
Penulis : Viva Rahwidhiyasa Fotografer : Ahkamul Hakim

Halaman belakang bangunan dua lantai ini berada pada area datar yang luas dan terbuka yang merupakan orientasi pandangan dari ruang-ruang komunal di dalamnya. Formasi bangunan simetris dengan massa bangunan utama dua lantai dengan pengembangan yang menjorok ke arah taman sehingga membentuk formasi massa bangunan berbentuk huruf T. Seluruh dinding yang menghadap ke arah taman berupa kaca transparan, baik berupa kaca mati, atau pintu lipat geser dari kaca tanpa bingkai (frameless).
Pola simetris dari bangunan diterapkan pada taman yang terwujud pada pola kolam renang berbentuk T tetapi dalam formasi terbalik dengan bangunan. Bagian yang mengecil merupakan area rendam. Bagian lain berupa area plaza yang ditutup permanen dengan pengerasan dari batu granit yang dipoles secara kasar. Pada kedua sudut taman dibuat bangunan penunjang yaitu kamar bilas dan ruang penyimpanan.
Dominasi warna putih dari hardscape memberikan kesan luas dan kesan lapang, sedangkan warna hijau dari tanaman berhasil menyejukkan mata. Uniknya, konsep penanamannya menggunakan planter box yang dirancang struktural yang menyatu dengan dinding. Bak tanaman berbentuk memanjang diisi dengan tanaman dalam komposisi monokromatis. Bagian sisi yang berseberangan dengan kolam, ditanami tanaman yang dipangkas secara rapi menyerupai pola lilin yang seragam di sepanjang dinding. Struktur vertikal tanaman diimbangi dengan struktur horizontal yaitu dengan tanaman yang tumbuhnya menjuntai (cascade).
Berbeda dari pola sebelumnya, bak tanaman yang menempel pada dinding yang menyiku dengan kolam diisi dengan tanaman berbunga dengan nuansa hijau pekat. Tanaman terlihat cantik dengan kuntum bunganya yang berwarna putih bersih. Seluruh komposisi softscape di sepanjang dinding berkesan formal senada dengan karakter bangunan.
Karakter yang berbeda ditampilkan pada komposisi yang berada di seputar teras. Dua planter box yang berada di sisi kiri dan sisi kanan ditata lebih natural dengan paduan beberapa jenis tanaman, seperti tanaman kurma dan Bromelia yang seolah-olah menyembul diantara bebatuan, sebagai penutup tanah. Kanopi tanaman kurma memberikan keteduhan di seputar area teras. Untuk menikmati keindahan taman belakang, di samping teras ditempatkan beberapa kursi taman berbahan rotan sintetis berwarna cokelat.
Lokasi :
Kediaman Kel. Shanta Birawa
Menteng – Jakarta Pusat
Arsitek dan konsep Hardscape:
Khing S George
Konsep Soft Scape :
Fiify Eluza dari Bougainvilea Cipta
Read the rest of this entry »
Posted in Taman | No Comments »
September 30th, 2011
Penulis : Viva Rahwidhiyasa
Fotografer : M. Ifran Nurdin
Biasanya penerapan konsep split level lebih ditujukan pada hunian mungil untuk menyiasati skala ruang yang terbatas. Namun kali ini berbeda, konsep split level di hunian yang berlokasi di kawasan Bintaro ini lebih ditujukan untuk membedakan zonasi ruang agar lebih memberikan “pengalaman ruang” yang berdimensi.
Hunian yang berada di atas tanah seluas 450 m² ini berupa bangunan dua lantai yang di-split menjadi empat level. Dari arah luar, terlihat bangunan berjenjang dengan massa bangunan seolah-olah merupakan perpaduan antara bidang kotak persegi dan bidang trapesium yang disusun dalam susunan maju-mundur dan tinggi-rendah untuk menegaskan dimensi.
Gubahan massa kotak bersusun dipadukan dengan massa bangunan masif yang sengaja “dimiringkan” pada satu sisi yang menghadap ke arah depan. Kedua komposisi massa bangunan masif tersebut dipisahkan oleh kanopi kaca yang transparan sehingga memberikan kesan “ringan” antara kedua massa bangunan tersebut. Bangunan dengan void beratap miring ke arah satu sisi dan sebagian tembus pandang, seolah-olah mewujudkan skala ruang dalam pada bangunan dua lantai tersebut.
Setiap bidang masif diolah dengan finishing berbeda yaitu diaci halus dan dikamprot, kemudian dicat dengan dua jenis warna bernuansa alami yang berbeda. Ada pula yang ditutup dengan batu andesit yang dipasang dengan teknik “susun sirih”. Diantara bidang masif tersebut terdapat bidang yang seolah-olah “dilubangi” dengan dinding kaca transparan yang menerus sampai ke atap dan tembus pandang untuk menjaga keseimbangan massa bangunan. Komposisi dinamis yang atraktif ini membentuk bangunan berkarakter yang berbeda dari bangunan-bangunan di sekitarnya.
Massa bangunan induk dengan skala ukuran yang lebih besar disambung dengan massa bangunan privat yang digunakan untuk kamar tidur utama, membentuk formasi L. Sisi bangungan induk yang menghadap ke arah dalam sengaja dibuat lebih sederhana (plain) untuk memaksimalkan fungsi ruang dalamnya. “Permainan” detail yang unik senada dengan massa bangunan ruang tamu, diaplikasikan pula pada detail bangunan privat. Area ini sudah dirancang dengan fondasi konstruksi dua lantai tetapi area roof di atasnya hanya dimanfaatkan sebagai roof garden saja. Bentukan bidang miring “diperlunak” dengan tanaman cascade yang menjuntai merepresentasikan gambaran air terjun jatuh.
Taman belakang didesain menyerupai suasana resor dengan kolam renang dan taman tropikal yang mengisi celah dan lorong diantara massa bangunan. “Sensasi outdoor” dapat dirasakan dari ruang tidur utama karena memiliki akses langsung ke arah kolam. Permukaan kolam berada pada posisi satu meter lebih tinggi dari permukaan taman. Dalam hal ini tepian kolam dibuat overflow agar terasa lebih natural.
Konsultan dan Kontraktor :
Riadi Rizal Basjrah , Yusfiardi Thamrin dan
Tim dari Design RumahKoe
Lanskap : Djoni D. Waridan
Read the rest of this entry »
Posted in Arsitektur | No Comments »
September 30th, 2011
Penulis: Qisthi Jihan, Fotografer: Sjahrial Iqbal
Villa yang berlokasi di kawasan Puncak, Bogor ini dibangun sebagai tempat berekreasi dan bersantai bersama keluarga besar pemilik villa setiap akhir pekan (weekend). Villa yang berada di atas lahan seluas 4600 m² dan dengan luas bangunan 1200 m² ini memiliki dua massa bangunan, yaitu bangunan utama untuk keluarga besar dan bangunan untuk tamu keluarga.
Massa bangunan utama yang terdiri dari dua tingkat tersebut memisahkan antara area privat dengan area berkumpul keluarga. Didalamnya bangunan utama terdapat delapan kamar tidur termasuk kamar tidur utama dan fasilitas ruang komunal indoor dan outdoor. Hal senada juga tersedia pada bangunan tamu keluarga, namun disini ditambahkan fasilitas lain berupa kolam renang dan lapangan olah raga.
Kondisi lahan berkontur membuat Silvia Honsa sebagai arsitek memanfaatkan lahan secara maksimal dengan merancang bangunan melalui “permainan” split level. Demi mendapatkan pemandangan hijau di sekitar villa, maka massa bangunan pun didirikan pada titik tertinggi pada lahan ini, dan konsep bangunan pun dibuat transparan serta terbuka. Misalnya saja dengan menerapkan aplikasi material transparan di sebagian besar dinding ruang yang berhadapan langsung dengan alam luar. Keunikan lainnya pada vila ini adalah terdapatnya area semi-outdoor pada setiap ruang termasuk pada setiap kamar.
Pada prinsipnya bangunan ini didesain berkonsep modern dengan “nyawa” sebuah bangunan bergaya resor. Pendekatan desain diaplikasikan melalui unsur natural seperti dengan mengutamakan terdapatnya interaksi antara hunian dan unsur alam secara langsung. Adapun material alami seperti batu alam dan kayu diaplikasikan baik pada eksterior bangunan maupun pada interior bangunan. Dalam pemilihan material, Silvia Honsa juga mempertimbangkan material yang mudah dibersihkan dan tahan lama sebagai respons terhadap bangunan yang berada pada alam yang lembap. Bangunan modern yang berkesan “hangat” pun dapat diperoleh sehingga mendukung suasana yang akrab ketika berkumpul dengan keluarga.
Pemilik : Mohamad di Kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat
Arsitek : Silvia Honsa, ST
Project Director: Awod Makky
Kontraktor : Ir. Syakib Arsalan
Read the rest of this entry »
Posted in Arsitektur | No Comments »
September 30th, 2011
Penulis : Imelda Anwar Fotografer : Ahkamul Hakim
Desain hunian dua lantai yang berlokasi di perumahan CitraSun Garden di Semarang, Jawa Tengah ini berawal dari keinginan pengembang Ciputra Grup untuk menghadirkan hunian berkelas (luxury residence) yang memiliki karakter khas sesuai dengan gaya hidup masyarakat masa kini. Konsep kemewahan ini diwujudkan dalam rancangan arsitektur rumah modern yang dikombinasikan dengan desain interior bergaya oriental tropis, agar dapat memberikan “jiwa” pada hunian layaknya eksotisme rumah-rumah Cina peranakan di pusat kota Semarang. Pada tahap awal, arsitek Budhi Harmunanto dari konsultan BHA merancang wujud hunian yang didominasi oleh bentuk kotak geometris simpel di atas lahan dengan luas 200 m².
Bangunan ini menggunakan bahan alam seperti batu alam sebagai pelapis dinding depan dan deretan bilah kayu di muka jendela kaca (secondary skin) untuk “menangkis” teriknya cahaya matahari. Arsitek juga merancang bukaan berupa deretan jendela kaca lebar demi memaksimalkan cahaya dan udara serta kontinuitas visual antarruang terutama adanya pemandangan ke arah kota di kejauhan dari bagian belakang hunian. Susunan ruang dalam hunian dengan empat buah kamar tidur ditata terbuka dan “mengalir” terutama area berkumpul keluarga dan area tangga yang dilengkapi dengan void setinggi dua lantai.
Untuk penataan ruang dalam hunian, desainer interior Jonas Mulia dari Jonas Design mengekspresikan Asian look melalui aplikasi warna “teduh” pada dinding, lantai dan plafon, seperti putih, krem, cokelat tembaga/bronz, cokelat tua/coffee brown, biru tua/indigo, abu-abu dan hitam. Sedangkan warna “hangat” seperti oranye dan kuning emas diterapkan pada elemen dekoratif. Desainer banyak memakai kayu dan menonjolkan keindahan serat kayu seperti terlihat baik pada elemen bangunan berupa kusen dan pelapis anak tangga maupun pada furnitur.
Desainer memanfaatkan koleksi furnitur dan benda seni hasil perjalanannya ke berbagai negara Asia untuk diaplikasikan sebagai elemen dekoratif. Misalnya kayu ukir berbentuk segitiga yang biasanya menghias sopi-sopi rumah tradisional kini dibingkai dan diberi alas kain warna kuning kunyit lalu dipajang di dinding ruang tamu, bersanding harmonis dengan Kang table dengan kaki berbentuk gulungan/scroll. Yang inovatif adalah cara desainer “mengemas” aksesori etnik sehingga tampil modern seperti Chinese painting dan tapestry yang diberi bingkai.
Tanaman dalam pot dan bunga tropis seperti anggrek dan benda seni (artwork) berupa guci serta lukisan turut menghias interior hunian. Tata cahaya dari lampu jenis downlight dan lampu tersembunyi dalam plafon gantung/indirect lighting juga dirancang untuk menciptakan suasana yang nyaman dalam hunian ini.
Lokasi : Rumah Contoh Tipe Amethyst di CitraSun Garden di Semarang, Jawa Tengah
Arsitek : Budhi Harmunanto dari BHA
Desainer Interior: Jonas Mulia dari Jonas Design
Read the rest of this entry »
Posted in Interior | No Comments »
September 30th, 2011
Penulis : Imelda Anwar Fotografer : M. Ifran Nurdin
Omah Sinten adalah sebuah hotel butik yang berlokasi di kawasan Ngarsopuro, tepatnya di depan area masuk Keraton Mangkunegaran, Solo Jawa Tengah. Menurut Slamet Rahardjo, pemilik sekaligus konseptor, Omah Sinten memang sengaja dirancang dengan mengusung tema tradisional Jawa demi menghadirkan nostalgia terhadap perkampungan khas Jawa di tengah kota Solo. Untuk mewujudkan konsep tersebut, pemilik hotel butik ini membangun tempat menginap eksklusif dan restoran yang dikelilingi oleh pepohonan rindang.
Dengan mengacu pada falsafah arsitektur Jawa, kompleks ini memiliki pusat orientasi berupa sebuah pendopo beratap joglo. Pendopo ini difungsikan sebagai restoran dengan modifikasi pada finishing bangunan agar sesuai dengan gaya hidup masa kini. Di samping pendopo, terdapat pula sebuah bangunan dua lantai. Lantai dasarnya ditata untuk waroeng dengan nuansa jadoel dan dapur terbuka. Sedangkan lantai atas didesain untuk ruang multifungsi yang dapat digunakan untuk kegiatan bersantap formal ataupun untuk acara lain yang lebih kasual.
Bangunan beratap limas ini juga menonjolkan struktur balok tiang dan dinding penyekat dari kayu. Namun, ada beberapa kombinasi seperti aplikasi batu alam pada lisplank dan kaki meja di warung. Fasilitas selanjutnya di kompleks ini adalah sebuah bangunan tiga lantai di bagian belakang pendopo yang menampung beberapa kegiatan. Lantai paling bawah, yaitu sebuah ruangan besar yang dikelilingi oleh gebyok kaca untuk restoran. Lantai dua dan lantai tiga bangunan ini didesain untuk sepuluh buah kamar tidur dengan tempat tidur untuk dua orang. Di lantai dua, terdapat sebuah ruang sinema mini dengan kapasitas 60 tempat duduk dalam format teatrikal yang dilengkapi dengan akustik dan teknologi audio visual canggih.
Bangunan tiga lantai ini tampil berbeda karena seluruh dinding luarnya diberi finishing susunan batu bata ekspos. Material ini juga digunakan untuk bagian dalam ruang sinema mini. Beberapa buah batu bata disusun silang agar menghasilkan akustik bunyi yang sempurna tanpa menggunakan bahan sintetik.
Dalam mendesain interior, pemilik properti selalu menonjolkan ciri bangunan khas Jawa seperti soko guru dan tumpang sari serta ornamen dekoratif seperti ukiran tiga dimensi bermotif bunga dan daun. Detail arsitektur khas lainnya terlihat pada genteng dan wuwungan/bagian nok atap serta aksesori seperti lampu chandelier antik. Untuk menegaskan keanggunan resto bernuansa heritage dari hotel butik berkelas ini, furniturnya dipilih yang bergaya klasik dan finishing open pore agar memberikan kesan rustic atau unfinished disesuaikan dengan tampilan pendopo.
Finishing ini juga diterapkan pada beberapa panel dinding dekoratif seperti di ruang rapat tertutup sehingga tampil kontras dengan beberapa set furnitur zaman doeloe berupa kursi bemo yang mengisi restoran. Ornamen khas Jawa lainnya adalah kain-kain batik yang diaplikasikan sebagai penghias plafon dan dinding. Gerobak kaki lima antik pun turut menghias pojok ruangan.
Lokasi : Omah Sinten di Ngarsopuro, Solo, Jawa Tengah
Pemilik Sekaligus Konseptor : Slamet Rahardjo
Read the rest of this entry »
Posted in Interior | No Comments »