October 31st, 2011
Penulis : Okita Sisy Tiara Fotografer : Ahkamul Hakim

Di tengah maraknya bangunan rumah tinggal bergaya internasional, hunian berikut ini tampil beda dengan desain modern yang mengutamakan nilai-nilai lokal. Sejak awal, pemilik rumah menginginkan hunian yang alami dengan unsur etnik pada interiornya, namun tetap tampil modern. Tim arsitek Akanoma berusaha menjawab keinginan tersebut di atas lahan seluas 363 m2. Tim arsitek memadukan massa dengan bentuk geometris yang kuat yaitu bentuk kotak dan bentuk silinder, dan massa beratap pelana. Perpaduan bentuk atap pelana dengan massa berbentuk kotak dan silinder ini merupakan keharmonisan antara unsur etnik dan unsur modern.
Fasadnya terlihat unik dengan perpaduan material bambu dan kayu, serta unsur hijau dedaunan pada pagar guna menciptakan tampilan yang alami. Pada hunian ini terdapat dua pintu masuk (entrance). Entrance yang pertama akan membawa kita ke ruang tamu yang berbentuk silinder. Ruang tamu ini memiliki tinggi satu setengah lantai yang dikelilingi oleh material kaca dan bambu. Di ruang tamu juga terdapat tangga melingkar menuju ruang kerja berbentuk mezanin. Meskipun memiliki desain yang modern, namun penggunaan furnitur bergaya lawas berhasil memberikan sentuhan etnik.
Memasuki pintu utama, kita akan disambut oleh ruangan menyerupai koridor dengan doubleheight menuju ruang makan dan mini bar bergaya warung. Ujung koridornya membawa kita ke teras samping yang dilengkapi kolam ikan dan taman yang hijau. Interaksi antara ruang luar dan ruang dalam yang “menyatu” membuat suasana ruang terasa seperti di luar. Teras samping yang berbatasan langsung dengan ruang dalam ini berfungsi untuk mengalirkan udara dengan prinsip ventilasi silang (cross ventilation).
Kelebihan lain yang dimiliki hunian ini adalah efisien dan ramah lingkungan. Tak hanya berhasil memaksimalkan cahaya dan udara, beberapa ruangannya ada yang menggunakan material bekas yang masih layak pakai. Seperti genteng bekas untuk penutup dinding pada ruang keluarga dan material kayu bekas bantalan rel kereta api sebagai bagian dari fasad hunian.
Lokasi : Kediaman Keluarga Ida di Kawasan Cinere, Jakarta Selatan
Arsitek : Akanoma Architect
Tim Desain : Yu Sing, Benyamin Narkan, Iwan Gunawan dan Teguh Radena
Read the rest of this entry »
Posted in Arsitektur | No Comments »
October 31st, 2011
Penulis : Okita Sisy Tiara Fotografer : M. Ifran Nurdin

Sosok arsitek Alex Santoso, yang dikenal lewat garis-garis desainnya yang unik dan modern, dipercaya pemilik rumah untuk merancang huniannya. Awalnya tapak merupakan lahan kosong dalam sebuah kaveling cluster yang telah siap dibangun. Suasana hijau sudah terbentuk secara alami.
Bagian muka bangunan ini berhadapan dengan “lereng bukit” yang terjadi akibat perbedaan kontur lahan dan ditumbuhi oleh pohon-pohon flamboyan. Hal ini menciptakan suasana asri dan hijau alami di sekeliling bangunan. Karena itulah arsitek membuat area terbuka di depan massa bangunan utama. Dengan demikian sesuai dengan keinginan pemilik rumah, suasana santai pun dapat dirasakan pada hunian ini.
Dari depan, hunian yang berdiri di atas lahan seluas 45 m² ini terlihat sangat modern dengan bentuk massa bangunan yang “dekonstruktif”. Bentuk massa bangunan yang dinamis ini sesuai dengan konsep dasar hunian ini yaitu dynamic house. Arsitek merancang hunian dengan penciptaan massa bangunan dan penempatan susunan ruang yang tidak biasa. Massa bangunan utama berbentuk seperti huruf L dan membentuk sebuah ruang terbuka yang luas dengan sarana yang lengkap untuk aktivitas outdoor.
Unsur modern juga terlihat dari tata letak ruangan. Misalnya merancang area terbuka berupa taman dan kolam renang sebagai area penerima tamu sebelum masuk ke bangunan. Selain itu pengolahan massa bangunan yang berlekuk dan tidak mengikuti grid yang baku, serta atap dengan kemiringan yang berbeda juga menguatkan kesan modern dan kontemporer.
Keterbatasan lahan bangunan seluas 517 m² ini disiasati dengan membagi hunian menjadi tiga lantai. Ruang terbuka yang terdiri dari reflecting pool, jacuzzi, dan taman ini ditempatkan pada bagian depan hunian.
Salah satu hal unik pada hunian ini adalah adanya jembatan dengan rangka baja dan lantai kaca tempered laminated yang berada pada void ruang keluarga. Jembatan berangka baja ini menggunakan teknologi mutakhir. Konsep modern dan dinamis tidak hanya diterapkan pada aspek arsitektur saja, tetapi juga diterapkan pada aspek interior. Perpaduan warna hitam, abu-abu dan putih dipilih untuk interior dan furnitur.
Lokasi : Kediaman Keluarga Christian dan Frisca di Kawasan BSD, Tangerang
Arsitek : Alex Santoso
Read the rest of this entry »
Posted in Interior | No Comments »
October 31st, 2011
Penulis : Imelda Anwar Fotografer : M. Ifran Nurdin
Kediaman keluarga Agus E. Santoso ini merupakan hunian lama dengan ruangan tambahan untuk kantor yang berlokasi di Semarang, Jawa Tengah. Seiring dengan berkembangnya bisnis yang mereka jalankan, mereka membutuhkan ruangan yang lebih besar dan efisien untuk karyawan serta untuk penyimpanan barang. Dalam hal ini Agus sebagai pemilik rumah sekaligus arsitek, merenovasi bangunan yang berdiri di atas lahan dengan luas 356 m² ini menjadi home office dengan tiga lantai.
Pertimbangan pertama dalam merancang bangunan adalah pembagian ruang yang kompak. Contohnya kantor Christine yang berprofesi sebagai perancang gaun pesta didesain sesuai dengan usaha butik dan konveksi pakaian, ditempatkan di lantai dasar agar dekat dengan carport dan garasi. Area privat berupa ruang keluarga, ruang makan dan empat buah kamar tidur berada di lantai satu sedangkan area servis ditempatkan di sisi barat hunian.
Adapun kantor Agus yang digunakan untuk konsultasi desain, taman atap (roof garden) dan area hiburan berada di lantai dua. Agus juga menyiasati bentuk lahan yang mengerucut ke arah belakang dengan mengolah area “sisa” baik berbentuk segitiga maupun berbentuk sempit memanjang, menjadi bentuk terbuka sampai ke atap (lightwell dan airwell) yang dikelilingi oleh ruang dalam.
Dalam mengolah fasad bangunan, Agus memadukan antara deretan jendela kaca, teritis kotak-kotak dan dinding berfinishing cat warna earth tones. Area masuk utama sekaligus akses ke butik ditandai oleh pintu ganda dan jendela kayu jati sedangkan balkon ruang keluarga dilengkapi dengan tanaman menjuntai Canna varigata dan ekor merak. Dinding muka area servis hanya disekat oleh jalusi aluminium vertikal dan deretan pohon bambu Cendani agar fasad tampil lebih “segar”. Atapnya didesain berupa satu bidang miring dan dinding di bawah atap sengaja dibuat mundur supaya bidang atap tampil menonjol. Desain yang mengacu pada prinsip arsitektur tropis ini tidak hanya membuat rumah lebih sejuk dan hemat energi listrik tetapi juga dapat mengoptimalkan kontinuitas visual antarruang.
Beranjak ke dalam, kita akan menemui kantor yang bersifat publik, ruang-ruang privat dan area servis. Beberapa dinding di sekitar tangga didesain transparan dengan kaca buram atau berupa jendela krepyak untuk memudahkan komunikasi antaranggota keluarga melalui area void tangga.
Di lantai satu, kita akan menemui ruang tamu “mungil” yang bersisian dengan ruang keluarga. Ruang ini menyatu dengan pojok meja kerja, ruang makan dan pantri serta dilengkapi dengan ruang terbuka/void sampai ke atap (double volume), balkon dan selasar menuju ke kamar-kamar tidur di bagian belakang. Dalam mendesain ruang dalam, Agus membuat bukaan pada dinding yang memungkinkan anggota keluarga untuk berinteraksi, berkomunikasi dan untuk dapat mengontrol kegiatan di ruang manapun mereka berada. Untuk pengisi interior hunian, Agus mengombinasikan antara furnitur, aksesori lama bergaya vintage dan aksesori bergaya modern.
Lokasi : Kediaman Keluarga Agus E. Santoso dan Christine Wibowo di Semarang, Jawa Tengah
Arsitektur dan Desain Interior : Pemilik
Read the rest of this entry »
Posted in Interior | No Comments »
October 31st, 2011
Penulis : Qisthi Jihan Fotografer : M. Ifran Nurdin
Sebagai desainer interior yang telah berkecimpung selama 19 tahun di dunia desain kreatif, Diana Nazir memanfaatkan keahliannya untuk diaplikasikan pada hunian pribadinya. Dalam mendesain hunian, Diana menjelaskan bahwa unsur kenyamanan merupakan “poin” terpenting yang harus diutamakan. Dari hasil renovasi rumah kuno yang dimilikinya, Diana membuat ruang-ruang luas dan meniadakan sekat untuk menciptakan pola ruang yang “mengalir” dan terbuka.
Dari tampak bangunan, ciri khas rumah zaman dahulu masih tetap dipertahankan. Setelah memasuki bagian dalam hunian, barulah tampak nuansa modern dan atraktif menghias ruangan. Area foyer yang juga berfungsi sebagai ruang perpustakaan dan musala diberi balutan warna ungu pada satu sisi dindingnya. Sebagai ruang perpustakaan, area ini dipenuhi deretan rak buku di sepanjang koridor menuju ruang bersama. Rak ini juga didesain untuk dapat menyimpan beberapa koleksi benda seni Diana seperti benda seni kaca solid.
Beralih ke ruang bersama, terdapat ruang makan dan pantri bernuansa hitam dari lantai dan kursi rotan sintetis. Adapun ruang menonton TV yang disatukan dengan ruang bermain musik berada pada satu area tertutup untuk memberikan privasi ketika menonton TV dan bermain musik. Ketika menaiki tangga, kejutan lain hadir melalui sebuah lukisan bernuansa oranye dan gambaran bunga-bunga yang merupakan eye catching. Karya Magdalena yang mengagumkan ini menambah nilai estetis dan “menghidupkan” lorong kosong di lantai dua, sekaligus menghubungkan antarkamar.
Kamar utama didesain simpel “eksentrik” dengan komposisi unik berbagai elemen pengisi. Terdapat laci (drawer) lawas dengan nuansa oriental yang ditempatkan pada sisi tempat tidur. Kantung yang biasa digunakan pada punuk unta diubah fungsinya menjadi karpet yang mengisi bidang lantai. Kehadiran benda-benda yang tak terduga ditambah dengan kreativitas sang desainer, menjadikan hunian ini penuh dengan tampilan “kejutan” pada setiap sudut hunian.
Lokasi : Cilandak, Jakarta Selatan
Desainer Interior : Diana Nazir
Read the rest of this entry »
Posted in Interior | No Comments »
October 31st, 2011
Penulis : Imelda Anwar dan Viva Rahwidhiyasa Fotografer : Ahkamul Hakim

Sebuah produk arsitektur hendaknya tidak hanya didesain untuk menjadi lebih baik atau lebih indah tetapi juga berkelanjutan (sustainable). Inilah pemikiran arsitek Budi Pradono yang terwujud pada karya terbarunya yang diberi nama R-House.
Pemikiran Budi rupanya sejalan dengan pemikiran pemilik rumah, Roni Aidil dan terealisasi dalam desain hunian keluarga Roni yang berlokasi di Tanah Baru, Depok. Desain hunian ini mengutamakan konsep mutualisme, yang artinya menciptakan kebersamaan antara pemilik rumah dengan tetangga sehingga saling menguntungkan. Mengacu kepada konsep desain ini, arsitek memadukan antara potensi dari kontur lahan, pergerakan cahaya matahari dan unsur air dengan pengolahan bentuk dan susunan ruang, detail konstruksi sampai desain interior hunian.
DESAIN ARSITEKTUR DAN INTERIOR
Dilihat dari kondisinya, lahan dengan luas 1701 m² ini berbentuk tidak beraturan dan terbagi menjadi dua bagian dengan luas dan ketinggian lahan yang berbeda. Bagian muka lahan merupakan kaveling standar kompleks dengan lebar 8 m dan kontur tanah yang landai. Bagian belakang lahannya berbentuk mengantong dengan kontur tanah lebih tinggi sampai 3 m dari kontur tanah di sekitarnya. Berdasarkan kondisi ini, arsitek memanfaatkan seluruh bagian muka lahan untuk ruang-ruang publik seperti ruang tamu, kamar tidur tamu dan garasi sedangkan bagian belakang lahan hanya dibangun sebagian untuk area privat. Halaman belakang yang luas diolah menjadi taman dan kolam renang, sedangkan area transisi diantara bagian muka dan bagian belakang hunian didesain berupa inner courtyard semiterbuka.
Lantai atas bangunan didesain berupa beranda lengkap dengan seperangkat kursi khas Betawi untuk menerima tamu yang dapat diakses melalui tangga luar. Adapun lantai bawah dibuat transparan untuk garasi dan tangga ramp, yang merupakan akses bersifat privat menuju ke ruang dalam hunian sekaligus penghubung kontur tanah yang ekstrem. Di area transisi ini, arsitek lebih banyak menerapkan material dan finishing yang mutakhir seperti balok dan lantai berlapis acian semen yang dipadu dengan bahan alami seperti lantai dan sebagian dinding yang berlapis batu andesit serta kusen dan daun pintu dari kayu.
Yang unik dari area transisi ini adalah naungan yang terbuat dari logam berlubang-lubang (perforated metal) kecil yang dibiarkan terbuka serta beberapa lubang aksentuasi berbentuk elips besar yang ditutup kaca transparan. Arsitek ingin menghadirkan “permainan” bayang-bayang (shadow) dari cahaya matahari yang menerangi area ini dan memaksimalkan sirkulasi udara segar ke dalam area. Pendekatan desain yang serupa juga diterapkan pada naungan di muka kamar tidur utama dan pada skylight di selasar dalam hunian sehingga penghuni rumah dapat merasakan perubahan cuaca dari waktu pagi sampai senja hari.
Beranjak ke bagian belakang hunian, suasananya tampil lebih “cair” dan berkesan futuristik. Massa bangunan ini terdiri dari tiga blok. Blok yang paling besar tersambung dengan area transisi dan didesain agak tertutup sedangkan dua blok lainnya ditata “menjorok” ke halaman belakang dengan posisi saling tegak lurus dan bersisian dengan kolam renang.
Yang unik dari desain bagian belakang di hunian ini adalah pengolahan unsur air dalam desain sehingga memberikan kesan sejuk dalam ruangan. Berbeda dari umumnya, arsitek menempatkan kolam ikan beragam ukuran di dalam ataupun di tepi bangunan sedangkan kolam renang berada di halaman belakang. Hasilnya, apabila dilihat dari denah, hunian dengan luas terbangun 796 m² ini seolah-olah “terapung” (floating) di atas “danau”. Hal ini sesuai dengan hobi pemilik rumah yang senang bertualang atau ingin mencoba hal baru.
Lokasi : Kediaman Keluarga Roni Aidil (R-House) di Kawasan Tanah Baru, Depok
Konsultan Arsitektur dan Interior : Budi Pradono dari Budi Pradono Architects
Read the rest of this entry »
Posted in Liputan Utama | No Comments »