February 16th, 2010
Penulis dan Fotografer : Rifki Sungkar

Di tengah derasnya pertumbuhan pariwisata dan perkembangan perkotaan, suatu daerah di Bali, sebuah pemukiman mampu mempertahankan tradisi berumur ratusan tahun untuk hidup berdampingan dengan gemerlap dunia modern. Itulah Desa Adat Penglipuran.
Berlokasi di kabupaten Bangli, sekitar 45 km dari Denpasar, Desa Adat Penglipuran sudah ada sejak 700-an tahun yang lalu, yaitu pada zaman kerajaan Bangli. Penduduk dari daerah Bayung Gede di Kintamani pindah ke tempat desa ini berada sekarang. Nama Penglipuran sendiri berasal dari kata Pengeling Pura yang berarti tempat suci untuk mengingat para leluhur. Segala pengembangan fisik desa dan pengembangan budayanya masih mengacu pada tanah leluhur yang masih ada di Bayung. Bahkan untuk berbagai upacara adat tertentu masih harus memohon restu ke tanah leluhur tersebut.
Read the rest of this entry »
Posted in Lingkungan | No Comments »
February 16th, 2010
Penulis : Imelda Anwar Fotografer : Tim Griya Asri
Desain retail merupakan hasil perpaduan harmonis antara disiplin ilmu arsitektur, desain interior, desain grafis dan periklanan. Rancangan tempat komersial seperti toko atau gerai (showcase) haruslah memperhatikan karakter dan keinginan konsumen serta menonjolkan keunggulan produk yang menjadi target jual. Lokasi tempat komersial baik berupa gerai di pinggir selasar pusat perbelanjaan/mal, pada salah satu dari deretan toko di mal, rumah toko / ruko yang berupa satu bangunan tersendiri juga memegang peranan penting. Tujuan desain retail ini antara lain mengakomodasi kegiatan belanja yang nyaman dan berkesan, memajang produk yang akan dijual, menyimpan stok barang, menampilkan citra perusahaan dan yang paling penting adalah “menarik” konsumen agar berbelanja di tempat tersebut dan ingin kembali lagi di lain kesempatan. Dalam perkembangan selanjutnya, desain retail tampil semakin inovatif dan berdaya saing tinggi seperti aktivitas berbelanja digabungkan dengan kegiatan lain dalam satu tempat (mix used area). Desain retail juga berkembang cepat seiring dengan berubahnya gaya hidup masyarakat agar dapat senantiasa memuaskan konsumennya. Tren global dan kebutuhan lokal menjadi faktor penentu terutama produk-produk yang berskala internasional serta memiliki rangkaian toko (retail chain) di beberapa negara. Tren desain retail masa kini lebih bersifat hiburan (entertainment) agar memberikan pengalaman berbelanja unik (shopping experience) bagi konsumen sehingga mereka selalu ingat dan ingin datang kembali. Pendekatan desain retail ini menjadi daya tarik utama yang merupakan kiat agar produsen dapat bertahan terutama menghadapi era digital.
Read the rest of this entry »
Posted in Liputan Utama | No Comments »
February 16th, 2010
Penulis : Viva Rahwidhiyasa Fotografer : Ahkamul Hakim
Pulau Ambon memiliki kekayaan alam yang istimewa. Di pulau yang indah ini terdapat perpaduan antara alam pantai dan alam gunung menghasilkan eksotisme yang unik. Kekuatan ini lah yang menjadi dasar utama ketika sebuah fasilitas hotel berbintang dibangun disana yaitu hotel Aston – Ambon.

Pulau Ambon merupakah salah satu dari gugusan pulau kecil di kepulauan Maluku. Pulau ini sangat spesifik karena berbentuk tapal kuda dalam posisi horisontal dengan cerukan ke dalam berupa teluk Ambon. Karena berupa dataran yang “tipis” maka terbentuk suatu situasi yaitu wilayah berkembang mengikuti garis pantai mengelilingi pulau. Di satu sisi berbatasan dengan pantai, dan di sisi yang lain berupa daratan yang berbukit. Vegetasinya pun tidak menyerupai vegetasi pantai pada umumnya, melainkan lebih menyerupai hutan heterogen dengan beragam jenis pohon yang tumbuh dengan subur dan lebat terutama pada sisi yang lebih tinggi ke arah bukit. Adapun area sisi pantai didominasi oleh tanaman khas pantai tetapi memiliki tajuk yang lebar.
Read the rest of this entry »
Posted in Taman | No Comments »
February 16th, 2010
Penulis : Didan Sardjono
Fotografer : Ahkamul Hakim dan Didan
Menutup tahun 2009, perupa Made Wianta kembali mengejutkan publik dengan menggelar pameran bertema Spotlight. Karya-karya yang dipamerkan di Galeri Nasional Jakarta ini merupakan karya-karya terbaru yang sudah lama diciptakannya, tetapi belum pernah dipublikasikan. Aneka karya yang dipamerkan kali ini sangat berbeda dengan karyanya terdahulu karena karyanya kali ini penuh dengan warna cerah.
Pameran Spotlight yang diselenggarakan oleh O House Gallery ini merupakan lukisan yang berasal dari beragam sketsa yang selama ini telah dibuat dan disimpan oleh Wianta. Sketsa-sketsa tersebut jumlahnya sekitar 4000, setelah sketsa dipilih kemudian dituangkan dalam kanvas berupa lukisan. Biasanya sketsa tersebut dibuat di atas kertas, kertas tisu, tiket pesawat atau tiket parkir, kardus, dan kertas pembungkus rokok. Sketsa ini dibuat ketika ia sedang berada dalam berbagai tempat seperti ruangan tunggu dan stasiun, atau sedang bersantai. Pada awalnya semua sketsa itu hanya disimpan untuk dokumentasi. Namun ketika sketsa sudah menjadi lukisan dan dipamerkan, lukisan tersebut menjadi suatu “kejutan” dengan pewarnaan yang cukup mencolok.
Read the rest of this entry »
Posted in Seni | No Comments »
February 16th, 2010
Penulis dan Fotografer : Rifki Sungkar
Di ujung Utara benua Afrika lebih kurang 5.000 tahun lalu muncul peradaban besar dari suatu bangsa. Mereka mengembangkan kebudayaan luar biasa, membangun kuil-kuil dan makam-makam yang tidak ada duanya di dunia. Bangsa tersebut menamai negeri ini “Kemet” berarti tanah hitam, sementara orang Yunani menyebutnya Egypt, sedangkan orang Arab memberi nama Al Misr atau Mesir.
Adalah sungai besar bernama Nil yang menyebabkan semua itu dapat terjadi. Mengalir dari jantung Afrika sepanjang 6.680 km, sungai ini, membelah daratan Mesir. Pasang surut sungai Nil meninggalkan endapan tanah berwarna hitam yang sangat subur, menciptakan sabuk hijau tanaman, kontras dengan gurun pasir di sekelilingnya. Anugerah ini dimanfaatkan oleh bangsa Mesir Kuno untuk mengembangkan pertanian dan menghasilkan panen melimpah. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di sepanjang lembah Sungai Nil, maka berkembang suatu tatanan sosial untuk mengatur sistem pertanian sekaligus kehidupan mereka. Tatanan ini lambat laun berkembang menjadi kerajaan Mesir Kuno dengan dipimpin oleh raja yang disebut “pharaoh”. Catatan sejarah dan temuan artefak menunjukkan bahwa kerajaan Mesir Kuno telah berkembang sejak 3.100 tahun Sebelum Masehi. Selama sekitar 3.700 tahun lamanya, bangsa ini mengembangkan budaya dan kepercayaan tersendiri, menciptakan sistem tulisan hieroglif serta membangun kota, kuil, monumen dan makam menakjubkan. Kerajaan besar dan kaya tentu akan mengundang bangsa-bangsa lain untuk datang sebagai sahabat atau sebaliknya mudah berusaha merebutnya. Hal ini terjadi di sini. Kerajaan Mesir mengalami berbagai serbuan dari bangsa tua lainnya seperti Persia, Yunani, Romawi, dan Arab. Kerajaan ini akhirnya benar-benar runtuh setelah serbuan bangsa Arab pada tahun 640 M.
Read the rest of this entry »
Posted in Wisata | No Comments »