Penulis : Imelda Anwar Fotografer : M. Ifran Nurdin
Keunikan hunian ini terletak pada eksplorasi material mutakhir, komposisi bentuk geometris nan simpel dan susunan ruang transparan sehingga memberikan kenyamanan dan dapat mengekspresikan diri pemiliknya. Konsep hunian keluarga Lie Hoksan berawal dari keinginannya untuk memiliki posisi kamar tidur yang berdekatan dengan letak area berkumpul keluarga seperti ruang duduk dan ruang makan, sehingga mudah diakses dan efisien. Untuk mewujudkannya, ia percayakan kepada tim arsitek Ronald Pallencaoe dan Erick Laurentius S. dari konsultan Pranala untuk mengembangkan rancangan mereka pada kaveling seluas 528 m2.
KONSEP ARSITEKTUR
Pada tahap awal, arsitek mengolah kontur lahan yang semakin tinggi sampai 2,5 m dari jalan ke arah belakang, dengan cara cut and fill, menjadi semibasemen untuk garasi dan area servis. Wujud massa bangunan didominasi oleh komposisi kubus geometris yang “lugas” dan diatur saling maju-mundur secara dinamis. Pada fasad, serangkaian tangga dengan kolam hias dan tanaman air memberikan kesan welcoming ketika tamu menuju ke beranda. Bagian tengah dinding pintu masuk (entrance) diatur mundur (set back) dan dibuat dari material transparan berupa kaca lebar yang diapit oleh dinding masif sehingga menegaskan “permainan” tiga dimensi yang atraktif.
Sesuai dengan keinginan pemilik rumah, lantai satu ditata untuk area semiprivat seperti pantri, ruang makan dan ruang duduk tanpa dinding penyekat serta bersisian dengan area tangga, ruang kerja dan kamar tidur utama. Area ini merupakan pusat kegiatan sehari-hari sekaligus tempat untuk menjamu kerabat pemilik rumah, sedangkan lantai dua ditata untuk kamar tidur tamu dan home theater. Untuk memaksimalkan kontinuitas visual antara ruang dalam dan lingkungan sekaligus memaksimalkan masuknya cahaya alami, dinding belakang rumah terutama di lantai satu, didominasi oleh pintu kaca lipat geser yang dapat dibuka baik ke arah selatan maupun ke arah timur.
EKSPERIMEN STRUKTUR
Berbeda dari konstruksi hunian umumnya, deretan pintu kaca tersebut tidak terhalang oleh kehadiran kolom struktural di pojok bangunan. Hal ini merupakan hasil eksperimen arsitek untuk memindahkan beban struktural dari kolom bangunan di lantai satu ataupun di lantai dua ke deretan tiang besi iwf di lantai dua dan sepasang kolom besi beton yang mencuat ke tengah halaman belakang. Ruang duduk yang disekat dengan deretan pintu kaca terhadap teras belakang ini juga dilengkapi dengan void menerus sampai plafon lantai dua.
Terobosan lain yang berhasil dilakukan oleh tim arsitek adalah struktur tangga. Setiap anak tangga terbuat dari kayu solid sepanjang 1,2 m, kemudian ditanam ke dalam dinding dengan sistem kantilever/gantung sehingga tidak bergetar ataupun bergoyang ketika dilewati. Dinding area tangga juga dilapisi oleh veneer bermotif serat kayu dengan warna yang lebih gelap, sedangkan dinding luarnya dari kaca yang lebar sehingga area ini menjadi elemen kuat dalam bangunan.
Upaya lain adalah pembuatan dinding double brick dan jalusi kayu di kamar tidur utama untuk mengurangi panas matahari. Arsitek juga banyak mengekspos dan memadupadankan warna serta tekstur material pabrikasi dan material alami secara kontras. Misalnya paduan batu curi dan batu basalto yang berwarna gelap dan bertekstur kasar dengan marmer jenis travertine ataupun serpegiante yang berserat eksotik dan memiliki permukaan licin.
Lokasi : Kediaman Keluarga Lie Hoksan di Bandung, Jawa Barat
Arsitektur dan Interior : Ronald Pallencaoe dan Erick Laurentius S. dari Konsultan Pranala








