Di kabupaten Bangli, Bali terdapat banyak desa yang masih memegang kuat budaya kuno Bali (Bali Aga). Meskipun di tengah derasnya perkembangan hunian modern di perkotaan, desa-desa tersebut masih dapat mempertahankan tradisi yang sudah berumur ratusan tahun. Desa-desa tersebut mempunyai arsitektur bangunan yang sangat kuno dan tradisional sebagai warisan nenek moyang yang tetap eksotis. Salah satu desa tersebut yaitu desa Bayung Gede. Konon desa Bayung Gede merupakan induk dari desa-desa Bali kuno yang menyimpan beragam keunikan dan ciri khas tersendiri.
Desa Bayung Gede berada di kecamatan Kintamani, kabupaten Bangli, sekitar 55 km dari Denpasar. Menurut kepala desa Bayung Gede, Wayan Suwela, nama Bayung Gede berasal dari kata Bayu Gede atau adi kuasa (super power). Desa ini mempunyai bangunan berarsitektur tradisional dengan material tiang dari kayu dan atap khas sirap bambu yang masih tetap dipertahankan.
Penggunaan bambu menjadi dominan karena 40 persen luas desa di kawasan ini merupakan hutan bambu. Di samping itu bambu tersebut juga dipakai untuk bahan barang kerajinan dan kebutuhan untuk acara ritual. Dari sisi pelestarian lingkungan hidup, hutan bambu berfungsi vital untuk menahan erosi. Hal ini mengingat kondisi lahan desa yang memiliki struktur tanah yang miring. Pemakaian bambu juga diatur sedemikian rupa oleh peraturan adat agar ekosistem desa tetap terjaga. Inilah kearifan lokal yang patut ditiru dan dapat menjadi referensi bagi para arsitek Indonesia.
Di sini setiap bangunan rumah memiliki ukuran 1.5 are sampai dengan 3 are. Jalan desa sebagai pemisah dipertahankan dengan tidak menggunakan aspal tetapi menggunakan paving block dan batu sikat. Setiap rumah dalam setiap kaveling semuanya tampak hampir seragam yaitu berada dalam pekarangan dan dibatasi oleh pagar tembok serta memiliki gerbang khas Bali sebagai pintu masuk. Desa ini menganut tata ruang dengan konsep tertentu yaitu setiap pekarangan mempunyai beberapa bangunan berupa rumah, dapur, lumbung dan tempat sembahyang.









