Penulis : Ade Iskandarsjah L
Fotografer : Ahkamul Hakim
Kompleks sekolah internasional Green School yang berlokasi di Sibang Kaja, kawasan Badung, Bali berbeda dengan sekolah pada umumnya. Semua bangunan di kompleks ini menggunakan bambu sebagai material utamanya dan alang-alang sebagai penutup atapnya. Hampir semua ruangan dalam bangunan dibuat tanpa dinding, kecuali kantor pengelola yang dinding dan jendelanya memakai bilah bambu. Semua ruangan seperti ruang pertemuan, ruang makan, ruang serba guna dan kamar kecil menampilkan keharmonisan antara bangunan buatan manusia dengan alam sekitarnya. Konsep yang berkelanjutan dan ramah lingkungan ini digagas oleh John Hardy, seorang warga negara Kanada yang telah tinggal di Bali selama lebih dari 30 tahun.
Awalnya John Hardy adalah seorang ahli pembuat perhiasan namun beberapa tahun terakhir dia sangat peduli terhadap persoalan lingkungan hidup yang sudah sangat rusak di bumi ini. John mencoba memberikan sumbangan dalam memecahkan masalah ini dengan jalam mendirikan Green School di Bali, yang telah dimulai sejak tahun 2007. Kedekatan kehidupan John dan istrinya dengan Bali selama ini ikut menginspirasi bentuk arsitektur sekolah ini. Dengan metode pengajaran yang berbeda, John berharap anak-anak di sekolah ini kelak saat dewasa nanti dapat memelihara bumi dengan berbagai aksi antara lain menanam pohon bambu. Selain itu, John juga mendirikan PT. Bambu yang membuat dan mengembangkan berbagai produk dari bambu seperti furnitur dll.
Menurut John, struktur bambu pada dasarnya adalah struktur ”rangka-batang” yang lebih luwes dan artistik dalam mengikuti alur maupun bentuk arsitektur, bagaikan liukan penari Bali yang gemulai. Bangunan utama Green School misalnya berbentuk bangunan tiga lantai yang dinaungi tiga buah atap besar dengan skylight berbentuk “keong”. Bangunan lainnya adalah balai pertemuan yang juga dipakai sebagai ruangan makan dan memiliki bentang besar tanpa kolom di tengahnya kecuali pada kedua ujungnya. Bangunan ini memiliki skylight memanjang yang ditopang oleh kolom-kolom dan bilah bambu yang diikat kawat baja. Konsep bangunan ini sangat bersahaja, bahkan fondasinya pun tidak serumit struktur beton atau struktur baja pada umumnya.
Keunikan lainnya terdapat pada bangunan kelas yang terbuka tanpa dinding dimana interaksinya dengan alam terasa intens terutama saat udara agak panas atau hari hujan. Mengingat sebagian besar siswa Green School adalah siswa asing dari negara empat musim, diperlukan juga ruang khusus yang dingin berupa ruangan berbentuk kubah yang dibentuk dari bahan kain dilapisi lateks. Apabila satu sisinya ditiup angin sehingga menggelembung yang dapat digunakan apabila hari panas. Arsitektur hijau di Green School Bali ini merupakan sebuah langkah nyata dari kepedulian terhadap masalah pemanasan global yang telah mengancam kelangsungan hidup manusia.




























