LIMA PULUH TAHUN IAI
Desember 2009 lalu, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) merayakan ulang tahunnya yang ke-50. Ulang tahun yang mengambil tempat di Hotel Sultan Jakarta tersebut dihadiri oleh para arsitek baik yang senior maupun yang junior. Dalam acara tersebut digelar hiburan acara dari arsitek untuk arsitek Acara ini juga digunakan untuk temu kangen antar para anggota yang sudah lama tidak bertemu. Selain hiburan, ada pula acara ceramah budaya oleh Gunawan Mohamad. Yang tidak kalah menariknya adalah penghargaan dari IAI pusat terhadap para arsitek senior yang telah mendirikan asosiasi arsitek tersebut. Penghargaan tersebut diberikan kepada wakil keluarga Muhammad Soesilo,keluarga Frederick Silaban, keluarga Liew Bwa Tjien dan 18 arsitek muda lulusan ITB.
Acara ini dibuka oleh ketua dewan kehormatan IAI, Adhi Moersid dilanjutkan dengan pidato sambutan ketua IAI Pusat Endy Subijono. Dalam pidatonya Endy mengatakan bahwa arti masa setengah abad merupakan waktu yang singkat bagi IAI untuk memperjuangkan kehidupan profesi arsitek Indonesia yang sehat. Hal yang ingin dicapai tersebut adalah adanya pranata arsitek kearsitekturan yang baik dengan ditandai adanya aturan-aturan yang jelas bagi profesi, sehingga arsitek dan pengguna jasa arsitek sama-sama terlindungi. Kondisi tersebut diharapkan dapat mendorong terciptanya karya-karya arsitektur yang bermutu dan mencerahkan, terciptanya lingkungan binaan yang manusiawi dan terjaganya tata ruang lingkungan yang seimbang.
Arsitek juga berperan sebagai pembela kebudayaan Indonesia melalui arsitektur, Beberapa arsitek Indonesia telah menerima penghargaan internasional, antara lain Aga Khan award. Dalam acara ulang tahun tersebut IAI menyelenggarakan beragam acara baik yang berskala lokal, nasional, maupun yang intenasional. Rangkaian acara ini meliputi seminar, lokakarya, sayembara, pameran, dan penerbitan buku. (d) ft.d




