Penulis : Rifki Sungkar
Akhir-akhir ini gempa bumi datang silih berganti di negara kita, hanya satu bulan setelah gempa di Jawa Barat pada tanggal 2 September, Kota Padang dan sekitarnya di Sumatera Barat diluluhlantakkan oleh goncangan dahsyat pada tanggal 30 September 2009.
Sesungguhnya tidak ada wilayah di Indonesia yang aman dari intaian gempa bumi, kecuali pulau Kalimantan. Letak negara kita berada di jalur pertemuan lempeng-lempeng tektonik yang dikenal dengan istilah jalur cincin api (ring of fire). Pantai Barat Sumatera, Pantai Selatan Jawa, Bali, dan NTB menjadi tempat pertemuan antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia. Adapun di bagian timur NTT terus ke bagian utara Sulawesi, Maluku dan Papua situasinya lebih rumit karena ada empat lempeng saling bertemu yaitu lempeng-lempeng Pasifik, Australia, Eurasia dan Filipina. Sampai kini lempeng-lempeng tersebut masih terus saling menekan yang menyebabkan terjadinya gempa bumi. Lalu mengapa beberapa tahun belakangan terjadi gempa besar secara beruntun? Gempa-gempa besar sebenarnya telah terjadi beberapa ratus tahun lalu, melepaskan sejumlah energi berkekuatan dahsyat. Kini energi-energi dari tumbukan lempeng tektonik tersebut telah terakumulasi kembali dan siap untuk dilepaskan. Dimulai dari Aceh tahun 2004, gempa-gempa berkekuatan besar terjadi secara beruntun menimpa berbagai daerah dan dalam pola yang acak, tidak menjalar secara berurutan. Ancaman bencana ini tidak hanya menimpa kota-kota di pesisir saja tetapi juga di daerah bagian dalam daratan. Patahan-patahan di dalam bumi yang saling bergesekan banyak tersebar di daratan, dapat terpengaruh oleh gempa tektonik sehingga menimbulkan gempa seperti yang terjadi di Yogyakarta.
Sekalipun tidak dapat diperkirakan kapan datangnya dan seberapa besar kekuatannya, bencana gempa tetap akan terus terjadi di Indonesia. Pindah ke pulau atau negara lain yang aman dari gempa mungkin bukanlah solusi yang diinginkan banyak orang dalam menghindari bencana gempa. Satu-satunya jalan adalah kita harus mampu hidup berdampingan dengan gempa bumi. Adaptasi harus dilakukan baik sebelum, saat dan setelah terjadi gempa. Dalam persiapan menghadapi gempa, kita harus membekali diri dengan pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa. Seperti bagaimana cara berlindung di dalam rumah, gedung tinggi, di luar rumah atau dalam kendaraan. Kita juga harus waspada akan longsor dan pohon tumbang apabila sedang berada di daerah pegunungan atau bencana tsunami apabila berada di kawasan pantai. Keterampilan dalam melakukan pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan menjadi penting untuk dikuasai. Jangan pula lupa untuk menyimpan nomor-nomor telepon penting yang dapat dihubungi bila terjadi gempa.
Selain itu, kawasan hunian juga harus dipersiapkan secara seksama dalam upaya menghadapi gempa. Kondisi tanah harus dipertimbangkan, apakah cukup kompak untuk menahan fondasi bangunan atau sebaliknya terlalu lunak sehingga dapat memperkuat getaran akibat gempa dan mematahkan fondasi. Dengan adanya peta geologi yang sekarang mudah didapat, kondisi ini tidak sulit untuk diketahui. Membangun rumah dengan struktur tahan gempa juga harus menjadi pilihan utama. Kasus gempa di Jawa Barat dan Sumatera Barat menunjukkan bahwa banyak bangunan runtuh karena tidak dirancang untuk tahan gempa. Strukturnya harus bersifat kenyal seperti memiliki kolom praktis, balok keliling dan sloof, serta menggunakan bahan-bahan bangunan seringan mungkin. Semakin fleksibel dan ringan bangunan maka akan semakin kecil beban gempa yang diterima. Memang kemungkinan besar kita akan mengeluarkan biaya ekstra untuk upaya ini. Namun, itulah yang harus dilakukan untuk dapat hidup tenang di negeri penuh gempa ini.







Great blog!! You should start many more. I love all the info provided. I will stay tuned
Dear Universite,
Hopefully useful and inspiring. Thank you for your kind attention.