June 12th, 2011

Penulis : Qisthi Jihan
Bahan kayu masih menjadi pilihan favorit untuk mendesain furnitur. Karakteristik serat dan keindahan warna kayu kerap diekspos. Contohnya, kayu jati memiliki warna kekuningan dengan ketahanan sampai berpuluh tahun sedangkan kayu sonokeling memiliki warna cokelat tua dengan ciri serat yang tegas. Adapun kayu sungkai mempunyai warna yang lebih terang sehingga cocok untuk interior yang simpel modern. Rotan yang banyak terdapat di Indonesia memiliki tampilan alami dan warna yang lebih terang dibandingkan dengan eceng gondok . Keduanya lebih banyak hadir dengan bentuk anyaman karena karakter kayu yang lebih lentur, sehingga lebih fleksibel untuk membentuk desain yang diinginkan. Adanya isu pemanasan global (global warming) yang akhir-akhir ini banyak digaungkan memberikan pengaruh bagi perkembangan industri furnitur. Para desainer dituntut kepeduliannya terhadap lingkungan sehingga beralih ke desain furnitur daur ulang (recycle) yaitu menggunakan kembali kayu bekas atau memilih kayu dari pohon dengan siklus pertumbuhan yang cepat untuk mengurangi penebangan hutan. Cara lain adalah dengan memoles kembali furnitur yang “dipoles” ulang. Furnitur yang terinspirasi dari alam bukan berarti hanya berbahan kayu, tetapi dengan menerapkan bentuk yang organik atau motif natural dengan menggunakan material artifisial.
Read the rest of this entry »
Posted in Tema | No Comments »
June 12th, 2011

Penulis: Imelda Anwar
Fotografer: Ahkamul Hakim
Penerapan desain yang berwawasan lingkungan telah berkembang pesat di berbagai kawasan perumahan di Indonesia. Desain inilah yang diterapkan arsitek Achmad D Tardiyana atau yang akrab disapa Apep pada rumah tinggalnya yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat.
Ada dua aspek yang menjadi dasar pertimbangan Apep dalam merancang rumah seluas 330m tersebut. Pertama, ia ingin agar rumah ini kontekstual baik terhadap sosial masyarakat maupun keadaan lingkungan sekitar yang berupa perkampungan padat penduduk dengan pemandangan ke arah lembah. Kedua, biaya yang dimilikinya terbatas untuk membangun rumah ini. Oleh karena itu dalam pendekatan desainnya, Apep memilih wujud rumah yang pada tipologi bangunan disekitarnya, yakni bangunan dua lantai dengan atap pelana dan massa bangunan yang “ramping”.
Halaman muka rumah dipagari oleh tanaman dan turap batu kali sehingga fasad terasa lebih bersahabat. Dalam penataan ruang, Apep memakai lantai dasar rumahnya untuk ruang multifungsi, yakni area perpustakaan sekaligus ruang diskusi jika ada tamu yang berkunjung. Tempat duduk di area ini didesain menyerupai teater semi outdoor dengan penyekat berupa deretan lemari rak buku yang mudah digeser untuk memberikan akses masuk saat diperlukan.
Di lantai satu, Apep menata balkon untuk area duduk bersantai, ruang menonton TV yang menyatu dengan ruang makan dan dapur serta satu kamar tidur dengan kamar mandi. Di lantai dua, terdapat satu ruangan luas untuk ruang kerja, ruang perpustakaan, kamar tidur utama dan balkon yang seolah-olah “menyembul” di tengah atap rumah. Untuk konstruksi rumah yang ekonomis, Apep memakai material yang lebih murah berupa bahan lokal seperti bambu, batu bata dan kayu bekas perahu yang didaur ulang.
Lokasi : Kediaman Achmad D. Tardiyana di Bandung, Jawa Barat
Arsitektur dan Interior : Pemilik
Kontraktor dan Struktur : Sonny Nasrullah
Mekanikal elektrikal : Firman Hanafi
Read the rest of this entry »
Posted in Lingkungan | No Comments »
June 12th, 2011
Penulis: Imelda Anwar
Fotografer: Ahkamul Hakim
Good design is good business. Ungkapan ini cocok untuk menggambarkan prinsip arsitek Masyuri Kurniawan dalam mendesain kantornya, konsultan arsitektur Moelia Graha Estetika, yang berlokasi di Depok, Jawa Barat. Bangunan dua lantai ini berada diantara pemukiman penduduk, maka dari itu ia menciptakan kesan formal dan bonafide untuk membedakan kantor dengan hunian disekitarnya.
Dalam konsepnya, Masyuri ingin mewujudkan tempat (space) untuk bekerja yang transparan dan “mengalir” (fluid) agar karyawannya lebih kreatif dan nyaman saat berada di dalamnya. Menghindari bentuk geometris, bentuk organik justru dipilih demi mengekspresikan kedinamisan dan perubahan tiada henti. Bentuk ini dimulai pada fasad bangunan yang ditutup oleh dua buah bidang dinding. Bidang tersebut tidak datar, melainkan patah-patah dengan konstruksi yang dibuat seolah berpegangan pada dinding struktural. “Celah” diantara kedua bidang ini dijadikan area pintu masuk (enterance) kantor. Aksen lubang dan bulat yang menghiasi permukaan bidang tembok membuat fasad tampil “ringan” dan atraktif.
Senada dengan desain fasad, “kejutan” lain tampak pada interior bangunan. Void setinggi dua lantai, kolam reflektif dan deretan plafon gantung (drop ceiling down) yang berada di area enterance membuat orang merasakan transisi dari ruang luar menuju ruang dalam. Secara keseluruhan, interior ruangan terasa lapang berkat dominasi warna putih pada seluruh finishing cat plafon dan dinding, keramik pelapis lantai hingga furnitur. Pilihan warna cerah seperti oranye dan hijau menjadi aksen untuk menghindari kesan monoton.
Agar serasi dengan konsep bangunan, sebagian besar kursi dan coffee table didesain menggunakan bahan resin dan berlubang-lubang dengan motif bulat. Beberapa kursi lain dibuat dari kerangka besi dan dibungkus anyaman kulit warna hitam. Namun, adapula yang memakai anyaman rotan sintetik warna putih. Khusus di area staf, arsitek merancang furniturnya dengan meja berkaki besi dan kabinet dari bahan MDF ber-finishing duco. Secara keseluruhan, desain kantor ini memberikan inspirasi akan arsitektur dan interior kontemporer yang inovatif.
Lokasi : Kantor Konsultan Arsitektur Moelia Graha Estetika di Depok, Jawa Barat
Arsitektur dan interior: Masyuri Kurniawan
Kontraktor : Moeliagraha
Read the rest of this entry »
Posted in Interior | No Comments »
May 8th, 2011
Penulis : Qisthi Jihan
Fotografer : M. Ifran Nurdin

Rumah yang berdiri di atas lahan dengan luas terbatas 154 m ² ini dibangun dengan konsep form follow function. Bentuk desain rumah ini mengarah pada rumah bergaya modern tropis yang mewakili karakter rumah di Indonesia dan diwujudukan dengan menggunakan garis-garis yang sederhana dan material alami agar rumah terasa lebih homey serta mudah merawatnya. Fasadnya cenderung ke arah rumah kubus, terlihat pada permainan garis dan bidang geometri dan menggunakan atap dak sehingga dikombinasikan dengan bahan woodplank. Ketika memasuki rumah, zona publik diletakan di lantai bawah dan area privat di lantai atas serta ditata dengan furnitur yang simpel juga partisi berupa kisi-kisi kayu. Dominasi bidang putih pada lantai, dinding dan plafon serta terdapatnya jendela dan pintu kaca membuat ruangan ini berkesan lapang. Di lantai dua kita akan merasakan “ hangatnya” kayu merbau pada kamar utama dan dua kamar anak serta penataan kompak layaknya sebuah kamar hotel. Beranjak ke ruang keluarga dan balkon, kita bisa menikmati pemandangan ke arah innercourt pada lantai satu dan cahaya alami dari skylight.
Read the rest of this entry »
Posted in Interior | No Comments »
May 8th, 2011
Penulis : Qisthi Jihan
Fotografer : Sjahrial Iqbal
Hummingbird, adalah sebuah restoran western yang berlokasi di Bandung dimana hewan burung dan binatang unggas diangkat sebagai tema restoran ini. Konsep desain interiornya unik yaitu dengan menampilkan cerita seputar kehidupan burung yang tampil lebih fun dan fresh sekaligus menjadi ensiklopedia modern. Massa bangunannya berbentuk lengkung yang terinspirasi dari bentuk sarang burung dan berada terpisah dengan massa bangunan utama di lahan depan dan. “Konstruksi” alami tumpukan jerami atau tumpukan daun-daun kering pada sebuah sarang burung diaplikasikan melalui jalinan rotan sintetis yang disusun tidak teratur sehingga membentuk massa bangunan yang organik ini. Memasuki massa bangunan utama yang berupa peninggalan bangunan lama, pengunjung “disambut” oleh suasana ruang yang homey dan santai serta bergaya lawas contohnya, penutup lantai teraso. Desainer juga mengembangkan furnitur bergaya klasik Amerika berwarna putih dan furnitur berwarna kayu alami yang warnya lebih muda sehingga terasa ‘ringan’. Resto ini terdiri dari tiga zona, yaitu zona dinning utama pada massa bangunan utama, zona teras yang bertempat di kiri dan di depan bangunan serta zona servis semiprivat bertempat di area belakang. Pada ruang dalam restoran ini banyak dijumpai sekat-sekat yang “mengotak-ngotakan” antarruang-ruangnya”, sehingga privasi pengjung tetap terjaga.
Pemilik : Yogi Pranatana
Read the rest of this entry »
Posted in Interior | No Comments »